Proses Pembentukan Urine dan Mengenal Sistem Kemih Manusia Update 2019

Proses Pembentukan Urine – Urine merupakan cairan sisa metabolisme yang telah dihasilkan ginjal dan dikeluarkan dari tubuh melalui kencing. Urine terdiri atas air dan juga bahan-bahan yang terlarut di dalamnya. Bahan-bahan terlarut tersebut berupa sisa metabolisme tubuh seperti halnya urea, garam terlarut, serta materi organik lainnya.

Terbentuknya urine sendiri ternyata melalui suatu rangkaian proses panjang yang terus terjadi setiap hari dengan berulang-ulang.
Pembentukan urine sendiri terjadi tiga proses, yakni proses penyaringan (filtrasi), proses penyerapan kembali (reabsorpsi), dan proses pengeluaran zat (augmentasi).

Zat-zat yang ada di dalam darah telah mengandung beberapa zat yang bermanfaat dan zat sisa yang beracun. Zat-zat yang masih dapat digunakan atau dimanfaatkan kembali akan diserap oleh tubuh melalui pembuluh darah di ginjal.

Proses Pembentukan Urine

Proses Pembentukan Urine

Adapun zat-zat sisa yang mempunyai racun harus segera dikeluarkan dari tubuh. Zat-zat yang berguna dan juga zat-zat beracun dipisahkan melalui proses penyaringan tersebut. Proses penyaringan darah terjadi di dalam badan Malpighi, khususnya yaitu glomerulus, yang terdapat di bagian kulit ginjal.

Darah masuk ke dalam ginjal melalui arteri ginjal, kemudian menuju ke glomerulus kemudian disaring. Hasil penyaringan darah oleh glomerulus ini berupa filtrat glomerulus tersebut. Selanjutnya, filtrat masuk ke dalam kapsula Bowman dan disebut dengan urine primer.

Komposisi

Struktur komposisi urin.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme seperti urea, garam terlarut, dan juga materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah maupun cairan interstisial.

Komposisi urin dapat berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misalnya glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan juga berbagai senyawa yang berlebih ataupun berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui tentang urinalisis.

Urea yang dapat dikandung oleh urin telah menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes merupakan suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak dapat ditemukan dalam urin orang yang sehat.

Mengenal Sistem Kemih Manusia dan Proses Pembentukan Urine

Urine merupakan hasil sisa metabolisme yang diekskresikan oleh ginjal kemudian dikeluarkan dari dalam tubuh melalui sistem perkemihan atau urinaria. Urine sendiri mengandung zat-zat yang sudah tidak diperlukan lagi oleh tubuh, sehingga harus dikeluarkan karena dapat meracuni tubuh. Kemudian bagaimana dengan proses pembentukan urine?

Mengenal sistem perkemihan

Proses Pembentukan Urine

Proses Pembentukan Urine

Sistem kemih manusia terdiri dari dua ginjal, dua ureter, satu kandung kemih, dan juga satu uretra. Tubuh mengambil nutrisi dari makanan dan kemudiaan mengubahnya menjadi energi. Setelah tubuh mengambil komponen makanan yang telah dibutuhkan, produk-produk limbah tertinggal di usus dan di dalam darah tersebut.

Sistem kemih manusia dapat membantu tubuh untuk menyaring dan mengeluarkan produk sisa tersebut atau limbah serta menjaga bahan kimia yang masih diperlukan tubuh. Saluran ureter dapat menghubungkan ginjal ke kandung kemih. kemudian urine akan disimpan di dalam kandung kemih, dan dikeluarkan melalui uretra.

Selain dapat menyaring dan juga mengeluarkan zat sisa tubuh, sistem kemih juga mempertahankan homeostasis (keseimbangan) air, ion, pH, tekanan darah, kalsium, serta sel darah merah.

Kegunaan lain dari Urine tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Seorang Doktor sedang bereksperimen menggunakan urin.
  2. Dukun Aztec menggunakan urin tersebut untuk membasuh luka luar sebagai pencegah infeksi dan diminum untuk meredakan sakit lambung dan usus.
  3. Bangsa Romawi Kuno menggunakan urin sebagai pemutih pakaian.
  4. Di Siberia, orang Kroyak meminum urin orang yang telah mengonsumsi fly agaric (sejenis jamur beracun yang menyebabkan halusinasi bahkan kematian) atau sejenisnya untuk berkomunikasi dengan roh halus.
  5. Dahulu di Jepang, urin dijual untuk dibuat menjadi pupuk.
  6. Penggunaan urin sebagai obat telah dilakukan oleh banyak orang, di antara mereka adalah Mohandas Gandhi, Jim Morrison, dan Steve McQueen.

Proses Pembentukan Urine Menurut Sejarah

Sejarah urine yaitu Warna kuning keemasan dalam urin pernah dianggap berasal dari emas. Ahli kimia di dunia telah banyak menghabiskan waktu untuk dapat mengekstrak emas dari urin yang akhirnya justru menghasilkan white phosporous, yang ditemukan oleh ahli kimia Jerman yaitu Hennig Brand pada tahun 1669 ketika ia sedang mendistilasi urin yang dapat difermentasikan.

Pada tahun 1773, para ahli kimia Prancis, Hilaire Rouelle, menemukan urea ketika ia mendidihkan urin hingga kering.

Proses pembentukan urine

Proses pembentukan urin terdiri dari tiga tahap yakni filtrasi, reabsorpsi, dan augmentasi. Semua proses tersebut terbentuk di dalam ginjal tepatnya di bagian nefron. Urine merupakan salah satu hasil dari sistem ekskresi pada manusia yang merupakan hasil penyaringan darah oleh ginjal.

Urine sendiri mengandung zat-zat berbahaya yang harus dikeluarkan oleh tubuh. Berikut merupakan 3 proses pembentukan urine. Langsung saja kita simak penjelasan yang pertama:

1. Filtrasi (Penyaringan)

Filtrasi adalah perpindahan cairan dari glomelurus menuju ke ruang kapsula bowman dengan menembus membran filtrasi. Membran filtrasi tersebut terdiri dari tiga lapisan, yakni sel endotelium glomelurus, membran basiler, dan epitel kapsula bowman. Tahap ini merupakan proses pertama dalam pembentukan urine.

Darah dari arteriol masuk ke dalam glomerulus dan kandungan seperti air, glukosa, urea, garam, urea, asam amino, dll lolos ke penyaringan dan menuju ke tubulus.

Glomerulus merupakan kapiler darah yang bergelung-gelung di dalam kapsula bowman. Ukuran saringan pada glomerulus dapat membuat protein dan juga sel darah tidak bisa masuk ke tubulus. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium yang berfungsi untuk dapat memudahkan proses penyaringan tersebut.

Filtrasi sendiri dapat menghasilkan urine primer atau filtrat glomerulus yang masih mengandung zat-zat yang masih bermanfaat seperti glukosa, garam, dan asam amino. Urin primer sendiri mengandung zat yang hampir sama dengan cairan yang menembus kapiler menuju ke ruang antar sel.

Dalam keadaan normal, urin primer tidak lagi mengandung eritrosit, tetapi mengandung protein yang kadarnya kurang dari 0,03%. Kandungan unsur senyawa maupun Kandungan unsur elektrolit tersebut yang larutannya merupakan pengantar listrik dan kristaloid atau kristal halus yang terbentuk dari protein dari urin primer juga hampir sama dengan cairan jaringan.

Kadar anion yang ada di dalam urin primer termasuk ion Cl- dan juga ion HCO3-, lebih tinggi 5% daripada kadar anion plasma, sedangkan kadar kationnya lebih rendah 5% daripada kation plasma tersebut. selain itu urin primer dapat mengandung glukosa, garam-garam, natrium, kalium, dan asam amino.

2. Reabsorpsi (Penyerapan Kembali)

Reabsorpsi terjadi di dalam tubulus kontortus proksimal dan juga dilakukan oleh sel-sel epitelium di tubulus tersebut. Fungsinya yaitu untuk dapat menyerap kembali zat-zat di urine primer yang masih bermanfaat bagi tubuh seperti halnya glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca, 2+, Cl-, HCO3-, dan juga HbO42.

Kemudian air akan diserap kembali melalui proses osmosis di tubulus dan lengkung henle. Zat-zat yang masih berguna itu akan masuk ke pembuluh darah yang telah mengelilingi tubulus. Hasil dari reabsorpsi yaitu urine sekunder / filtrat tubulus yang kadar ureanya lebih tinggi dari urine primer. Urine sekunder masuk ke lengkung henle tersebut.

Pada tahap ini terjadi osmosis air di lengkung henle desenden sehingga volume urin sekunder berkurang dan kemudian menjadi pekat. Ketika urine sekunder telah mencapai lengkung henle asenden, garam Na+ dipompa keluar dari tubulus, sehingga urea menjadi lebih pekat.

3. Augmentasi (Pengumpulan)

Setelah melewati lengkung henle, kemdian urine sekunder akan memasuki tahap augmentasi yang terjadi di tubulus kontortus distal. Disini akan terjadi sebuah pengeluaran zat sisa oleh darah seperti H+, K+, NH3, dan juga kreatinin. Ion H+ kemudian dikeluarkan untuk menjaga pH darah. Proses augmentasi telah menghasilkan urine sesungguhnya yang sedikit mengandung air.

Urine sesungguhnya telah mengandung urea, asam urine, amonia, sisa-sisa pembongkaran protein, dan juga zat-zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan, hormon, serta garam mineral.

Kemudian urine sesungguhnya akan menuju tubulus kolektivus untuk kemudian dibawa menuju pelvis yang kemudian menuju kandung kemih (vesika urinaria) melalui ureter. Urine inilah yang akan keluar menuju tubuh melalui uretra.

Proses pembentukan urine dan Tahap -Tahap Pembentukan Urine

Proses Pembentukan Urine

Molekul-molekul yang besar seperti protein dan juga sel-sel darah tidak dapat melewati glomerulus. Jadi, filtrat glomerulus hanya mengandung zat gula, air, garam-garam mineral, dan juga asam amino yang masih dibutuhkan oleh tubuh tersebut.

Filtrat glomerulus kemudian dialirkan melalui tubulus-tubulus di dalam sumsum ginjal tersebut. Di sepanjang tubulus atau saluran, terjadi penyerapan kembali atau reabsorpsi zat-zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh.

Pembuluh-pembuluh darah terkecil ditubuh (kapiler) di dinding tubulus kemudian menyerap zat gula, asam amino, dan juga garam-garam mineral dalam bentuk ion-ion anorganik untuk dibawa masuk ke aliran darah. Zat-zat yang tidak terserap ke dalam darah disebut dengan filtrat tubulus atau urine sekunder.

Filtrat tubulus kemudian terus mengalir di sepanjang tubulus atau saluran dan bergabung dengan zat-zat sisa yang lain menuju ke tubulus distal. Di dalam tubulus distal terjadilah sebuah proses augmentasi. Setelah menjalani proses tersebut, kemudian terbentuklah urine Sesungguhnya yang dikumpulkan melalui tubula kolekta untuk dialirkan menuju rongga ginjal.

Dan rongga ginjal, urine dialirkan melalui ureter menuju ke kantong kemih atau vesica urinaria. Pada pangkal kantong kemih terdapat otot melingkar atau sfingter. Jika kantong kemih penuh, kemudian otot melingkar tersebut tertekan dan merenggang.

Merenggangnya otot lingkar pada pangkal kantong kemih kemudian menimbulkan rangsangan berupa keinginan buang air kecil. Selanjutnya, urine dibuang ke luar tubuh melalui uretra tersebut.

Setelah mengalami sebuah proses filtrasi, proses reabsorpsi, maupun proses augmentasi terbentuklah urine yang mengandung zat-zat sisa dan zat-zat berlebih yang sudah tidak digunakan tubuh.

Urine yang dikeluarkan dan juga ginjal sebagian besar (lebih kurang 95%) terdiri atas air, sedangkan sisanya (lebih kurang 5%) terdiri atas zat-zat berikut ini.

Zat-zat sisa adalah sebagai berikut :

1. Urea, asam urine, dan amonia adalah sisa-sisa pembongkaran protein.
2. Garam-garam mineral, terutama garam dapur.
3. Zat warna empedu, yang telah menyebabkan urine berwarna kekuning-kuningan.
4. Zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti vitamin. obat-obatan, dan hormon.

Meyelidiki Lebih Dalam Berbagai Fungsi dan Jenis Tes Urine

Ada beragam tes yang dapat dilakukan untuk mengukur seberapa baik kerja komponen-komponen di dalam tubuh kita. Mulai dari tes kulit untuk dapat mendeteksi alergi, tes darah, uji kreatinin dalam darah, hingga tes urine.

Ya, tes urine sendiri dapat membantu mendeteksi bila ada gangguan pada organ-organ tubuh. Bahkan, tes urine juga umum digunakan untuk dapat menganalisis adanya narkoba dalam darah. Agar lebih paham mengenai tes urine, simak ulasan lebih lanjut berikut ini:

Apa itu tes urine

Sesuai dengan namanya, urinalisis atau tes urine merupakan suatu metode pemeriksaan menggunakan urine (air seni) guna untuk mendeteksi adanya gangguan dalam tubuh. Normalnya, urine yang sehat dan baik identik dengan warna kuning muda. Warna urine akan dapat berubah jika ternyata ada yang tidak beres dengan fungsi organ-organ tubuh Anda tersbut.

Urinalisis adalah salah satu bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Di sini, hasil dari tes urine akan dapat menunjukkan gejala awal penyakit tertentu. Baik itu penyakit ginjal, penyakit hati, diabetes, dan penyakit lainnya.

Apa fungsi tes urine

Proses Pembentukan Urine – Proses produksi urine tidak terjadi begitu saja, melainkan juga melibatkan fungsi kinerja ginjal, ureter, kandung kemih, serta uretra. Kesemua bagian tersebut disebut sebagai saluran kemih dengan peran sebagai penyaring limbah tubuh serta untuk pengatur keseimbangan air, elektrolit, protein, asam, dan zat lainnya di dalam tubuh.

Jika terjadi kerusakan pada komponen tubuh tersebut, otomatis akan memengaruhi kandungan, volume, warna, dan tekstur urine. Nah, urinalisis menjalankan tugasnya untuk dapat menilai perubahan pada urine.

Beberapa tujuan urinalisis yaitu:
1. Memeriksa kesehatan tubuh secara keseluruhan, karena sering menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.
2. Membantu mendiagnosis kondisi medis tertentu seperti infeksi saluran kemih (ISK), penyakit ginjal polikistik, gagal ginjal, peradangan ginjal, dan lainnya. Biasanya keluhan atau gejala yang Anda alami, seperti sakit perut, sakit punggung terus-menerus, sakit saat buang air kecil, ada darah dalam urine, ataupun masalah lainnya juga bisa dideteksi.
3. Memantau segala perkembangan beberapa penyakit sekaligus keberjalanan proses pengobatan, misalnya pada penyakit gagal ginjal, nefropati diabetik, infeksi saluran kemih, dan lainnya.
4. Menilai fungi ginjal sebelum operasi.
5. Memantau perkembangan kehamilan yang tidak normal, termasuk dehidrasi, preeklampsia, diabetes gestasional, dan lain sebagainya.
6. warna urin setelah minum alkohol

Apa saja jenis tes urine?

Selama proses urinalisis berlangsung, sampel urine Anda yang telah diletakkan di dalam wadah akan diperiksa melalui cara berikut ini:

A. Pemeriksaan visual

Pemeriksaan visual dilakukan dengan cara mengamati tampilan urine secara langsung. Mulai dari tingkat kejernihannya, ada tidaknya bau, bahkan warna urine. Warna Urine yang keruh dan juga berbau bisa mengindikasikan adanya masalah dalam tubuh Anda.

B. Pemeriksaan mikroskopis

Berbeda dengan cara pemeriksaan visual yang dapat mendeteksi secara langsung, pemeriksaan mikroskopis melibatkan mikroskop guna untuk mengamati urine dengan lebih jelas. Hal-hal penting yang diamati lebih lanjut yaitu sebagai berikut:

1. Kelainan pada sel darah putih (leukosit), yang menunjukkan adanya infeksi.
2. Kelainan pada sel darah merah (eritrosit), merupakan tanda penyakit ginjal, kelainan darah, kanker kandung kemih, ganggguan darah, dan kondisi medis lainnya.
3. Hadirnya bakteri atau ragi (jamur) sebagai tanda infeksi.
4. Kristal yang menandakan batu ginjal.
5. Sel epitel dalam jumlah banyak bisa menjadi tanda tumor, infeksi, penyakit ginjal, dan lainnya.

Jika jumlah komponen-komponen tersebut di dalam urine terlalu banyak, makan dibutuhkan pemeriksan lebih lanjut untuk lebih memastikannya.

Proses Pembentukan Urine