Sejarah, Struktur, Fungsi Dan Filosofi Rumah Adat Bubungan Tinggi 2018

Sejarah, Struktur, Fungsi Dan Filosofi Rumah Adat Bubungan Tinggi 2018

Rumah Adat Bubungan Tinggi – Rumah adat yang kali ini saya bahas adalah rumah adat Bubungan Tinggi yaitu salah satu dari jenis rumah Baanjung (rumah tradisional suku Banjar) yang berada di Provinsi Kalimantan Selatan.

Terlebih lagi rumah adat ini merupakan ikon Rumah Banjar dan maskot rumah adat di Kalimantan Selatan karena rumah adat bubungan merupakan rumah adat yang paling terkenal di provinsi tersebut.

Sejarah Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi / ulinulin.com

Pada masa kerajaan rumah adat Bubungan Tinggi merupakan pusat dari kompleks keraton Banjar  yang menjadi istana atau tempat kediaman raja, atau biasa disebut dengan nama Dalam Sirap dimana tepat di depan banguna tersebut terdapat sebuah Balai Seba yang dibangun sekitar tahun 1780 pada saat pemerintahan Panembahan Batuah.

Dari segi bentuk dan arsitektur Rumah Bubungan Tinggi lebih mirip denga Rumah adat yang ada di Betawi (Rumah Bapang), perbedaanya yaitu pada Rumah Bubungan Tinggi mempunyai konstruksi yang berbentuk panggung dan dan terdapat anjung pada sisi kiri dan kanan bangunannya.

Ciri-Ciri Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi /ulinulin.com

Menurut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, ciri-ciri rumah adat bubungan tinggi yaitu:

Atapnya bernama Sindang Langit tanpa menggunakan plafon

Tangganya selalu berjumlah ganjil

Pamedangan atau beranda setengah terbuka dikelilingi dengan Kandang Rasi yang berukir.

Konstruksi

Konstruksi rumah adat bubungan tinggi dibuat dengan menggunakan bahan utama kayu. Hal tersebut karena faktor alam yang terdapat di Kalimantan dipenuhi oleh hutan rimba hal tersebut  memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada masyarakat banjar, yaitu berupa kayu.

Karena hal tersebut maka Rumah Bubungan tinggi bentuk dan konstruksi bangunan rumah adat Banjar hanya cocok mengunakan kayu sebagai bahan karena tepat dan sesuai.

Bagian Konstruksi Pokok

Untuk Konstruksi utama dari rumah adat bubungan tinggi dibagi atas beberapa bagian, yaitu :

Bangunan induk

Tubuh bangunan yang berbentuk memanjang lurus ke depan inilah ciri khas rumah bubungan tinggi.

Anjung

Bangunan yang terdapat di sisi kiri dan kanan rumah bubungan tinggi.

Bubungan

Atap rumah adat yang tinggi melancip ke atas.

Atap Sindang Langit

Yaitu Bubungan atap sengkuap yang berbentuk memanjang ke depan.

Atap Hambin Awan

Yaitu Bubungan atap yang berbentuk memanjang ke belakang.

Untuk tubuh bangunan induknya berbentuk memanjang ke depan dan dibagi atas beberapa ruangan yang lantainya berjenjang.

Ruangan Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi / ulinnulin.com

Ruangan-ruangan yang lantainya berjenjang dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

Palatar atau biasa disebut pendopo (teras), yaitu ruangan depan yang mempunyai luas sekitar 7 x 3 meter, merupakan ruangan rumah adat bubungan tinggi yang pertama kali dijumpai setelah menaiki tangga masuk. Palatar biasa disebut juga dengan nama Pamedangan.

Pacira, yaitu ruang antara atau ruang transisi, ruangan ini terbagi menjadi dua bagian yakni pacira dalam dan pacira luar. Pacira Dalam mempunyai fungsi untuk tempat peyimpanan seperti alat pertanian, alat menangkap ikan atau alat pertukangan. Yang kedua pacira luar, ruangan ini mempunyai fungsi yang sama yang membedakan hanya posisinya saja. Pacira Luar berada di pintu depan atau Lawang Hadapan.

Panampik Kacil, yaitu sebuah ruang untuk menerima tamu yang berada setelah masuk melaui Lawang Hadapan atau pintu depan. Ruangan ini berukuran agak kecil sekitar 7×3, dan permukaan lantainya yang disebut Ambang lantai atau watun sambutan mempunyai tinggi yang lebih daripada permukaan lantai palatar.

Panampik Tangah yaitu ruang untuk menerima tamu yang terletak di bagian tengah rumah dan mempunyai ukuran lebih besar dari panampik kacil. Dibandingkan ruangan sebelumnya lantai ruangan ini mempunyai ketinggian yang lebih dari ruang sebelumnya. Sedangkan Ambang lantainya biasa disebut Watun Jajakan.

Panampik Basar (Ambin Sayup) ruang untuk menerima tamu yang terletak di ruang utama dan menghadap dinding tengah atau dalam bahasa Banjar disebut Tawing Halat. Dengan luas 7x 5 meter  ruangan ini mempunyai permukaan lantai yang lebih tinggi dari lantai-lantai sebelumnya. Nama Ambang Lantainya juga sama dengan ambang lantai di panampik tengah.

Palidangan (Ambin Dalam) ruangan yang ada di bagian dalam rumah dan berbatasan dengan panampik basar. Untuk Lantai yang ada di ruang palidangan mempunyai tinggi yang sama dengan lantai panampik basar walaupun ada beberapa rumah yang lantai di panampik basar lebih rendah dari lantai di palidangan.

Panampik Dalam (Panampik Bawah) ruangan yang ada di dalam rumah dengan ukuran cukup luas dan permukaan lantai yang lebih rendah daripada lantai yang ada di palidangan tetapi tingginya sama dengan permukaan lantai yang ada di panampik tangah. Nama Ambang Lantainya juga sama dengan ambang lantai di panampik tengah yaitu watun jajakan.

Padapuran (Padu) yaitu ruangan terakhir yang berada di belakang rumah. Untuk lantainya mempunyai Permukaan yang lebih rendah daripada panampik bawah. Untuk nama Ambang lantainya dikenal dengan nama Watun Juntaian.

Ruangan padapuran mempunyai beberapa bagian yaitu atangan atau lebih dikenal dengan tempat memasak dan salaian atau tempat untuk mengeringkan kayu bakar serta pajijiban atau pagaduran tempat untuk mencuci piring atau pakaian.

Ukuran Rumah Adat Bubungan Tinggi

Untuk ukuran tinggi, lebar dan panjang rumah adat bubugan tinggi biasanya berbeda-beda antara rumah satu dengan rumah lain. Hal tersebut dikarenakan pengukuran rumah pada waktu dulu mengunakan ukuran depa atau jengkal. Ukuran depa atau jengkal tersebut berasal dari tangan pemilik rumah, sehingga setiap rumah ukurannya berbeda.

Menurut kepercayaan masyarakat Banjar bahwa setiap ukuran harus berupa angka ganjil. angka ganjil tak hanya dalam ukuran panjang dan lebar rumah, tetapi semua yang berkaitan dengan rumah tersebut seperti layang-layang puncak, jumlah hiasan tangga, anak tangga, dan beberapa lain sebagainya.

Tetapi umumnya, ukuran panjang bangunan induk rumah adat Bubugan Tinggi sekitar 30 meter dengan lebar rumah sekitar 7 meter dan lebar anjungnya masing-masing sekitar 5 meter.

Sedangkan, lantainya mempunyai tinggi sekitar 2 meter dari permukaan tanah, yaitu kolong di bawah anjung dan palidangan, sedangkan untuk jarak lantai terendah sekitar 1 meter, yaitu kolong lantai ruang palatar.

Tata Ruang dan Kelengkapan

Rumah Bubungan Tinggi
Rumah Bubungan Tinggi / ulinulin.com

Tata ruang rumah tradisional Bubungan Tinggi terdapat tiga jenis ruang yaitu ruang terbuka, setengah terbuka dan ruang dalam. Ruang terbuka yaitu pelataran atau serambi, dibagi menjadi 2 lagi yaitu surambi muka dan surambi sambutan.

Ruang setengah terbuka terdapat pagar rasi yaitu Lapangan Pamedangan. Ruang dalam dibagi menjadi Pacira dan Panurunan , Paluaran, Paledangan yang terdiri dari Palidangan Dalam, Anjung Kanan dan Anjung Kiwa, serta Panampik Padu.

situasi ruang dan kelengkapannya;

Surambi

Di depan surambi muka terdapat tempat air untuk membasuh kaki. Juga terdapat tempat air lainnya untuk pambilasan.

Pamedangan

Ruangan yang lantainya lebih tinggi dan dikelilingi pagar rasi. Ruangan ini terdapat sepasang kursi panjang.

Pacira dan Panurunan atau Panampik Kacil

Masuk ke Pacira maka akan mendapati tanggui basar kacil di sebelah kiri, sedangkan di sebelah kanan terdapat pengayuh, pananjak dan tombak duha. Untuk penerangan ruangan ini menggunakan dua buah lampu gantung.

Paluaran atau Panampik Basar

Ruangan yang digunakan sebagai tempat kegiatan keluarga dan kemasyarakatan. Di atasnya sebelah samping kiri dan kanan ada gantungan dari tanduk rusa. Di tengahnya ada dua lampu gantung. Sedangkan lantainya diberi lampit dan beberapa kelengkapan seperti paludahan, parapen dan rehal.

Palidangan atau Panampik Panangah

Ruangan ini terdiri dari Anjung Kiwa dan Kanan dan Paledangan Dalam. Fungsi ruang ini sama seperti Paluaran, namun dikhususkan untuk wanita. Di sini terdapat kelengkapan lemari, kanap dan kendi. Lantainya terdapat hambal untuk alas duduk.

Anjung Kanan – Anjung Kiwa

Ruang Anjung Kanan yaitu ruang untuk istirahat yang terdapat alat rias dan perlengkapan unruk ibadah. Anjung Kiwa mempunyai fungsi untuk tempat melahirkan dan merawat jenazah. Ruang ini juga terdapat berbagai perlengkapan seperti lemari, kaca, ranjang, kursi, meja dan lain-lain.

Padu dapur

Padu dapur digunakan untuk tempat memasak dan digunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Perlengkapan di dalamnya yaitu rak dapur, lemari, tajau, dan ayunan anak.

Penutup

Sekian pembahasan yang dapat kami sampaikan tentang Rumah Adat Bubungan Tinggi. Semoga bermanfaat untuk Anda semua dan tentunya menambah pengetahuan. Sahabat, jika Anda setelah membaca penjelasan di atas tentunya Anda lebih banyak memiliki gambaran mengenai Rumah Bubungan Tinggi.

Terima Kasih.

Rumah Adat Bubungan Tinggi

Leave a Comment

%d bloggers like this: