Rumah Adat Tradisional Minangkabau Penjelasan [LENGKAP]

Rumah Adat Tradisional Minangkabau Penjelasan [LENGKAP]

Rumah Adat Minangkabau – Provensi Sumatra Barat ini ialah merupakan salah satu provinsi di Negara Indonesia yang lokasinya terletak di tengah-tengah Pulau Sumatra dengan menjadikan kota Padang sebagai Ibu kotanya di sana. Cocok dengan namanya, Sumatra Barat ini memang lokasinya terletak di tepi barat Pulau Sumatra lokasinya.

Kepulauan Mentawai dan pulau-pulau lainnya yang berada di Samudera Hindia ini masih termasuk kedalam wilayah atau lingkupnya. Provinsi yang satu ini dihuni oleh penduduk yang berasal dari suku Minang Kabau sebagai suku asli dan juga sekaligus suku mayoritasnya pada umum nya.

Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau / djulian28.blogspot.com

Suku Minang Kabau atau juga sering disebut oleh orang-orang dengan sebutan orang minang merupakan suku Melayu yang mempunyai kehidupan atau budaya dan karakteristik yang sangat unik di antara yang lainnya.

Tidak Cuma pintar berniaga, pintar memasak, dan suka merantau, orang-orang minang juga memiliki sebuah lambang budaya yang mana lambang budaya tersebut sangat dikenal di seluruh penjuru dunia.

Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau / arsitag.com

Lambang budaya tersebut ialah rumah gadang, yang mana pada saat ini rumah gadang sudah resmi dan juga ditetapkan emnjadi rumah adat Minang Kabau di Provinsi Sumatra Barat.

Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau / arsitag.com

Rumah Adat Minangkabau

Mari kita, langsung saja simak pembahasan tentang rumah adat Minang Kabau, selamat membaca dan semoga bermanfaat hususnya bagi yang menulis.

Contents [hide]
1 Fungsi Rumah Adat Minangkabau
2 Desain Rumah Gadang Minang Kabau
3 Ukiran Rumah Gadang
4 Proses Pembangunan Rumah Gadang
5 Bangunan Rumah Gadang
6 Lambang Lambang Rumah Adat Minang Kabau
7 Sejarah Rumah Gadang
8 Filosofi Rumah Adat Minang Kabau
8.1 Bagikan ini:
8.2 Terkait

Fungsi Rumah Adat Minang Kabau

rumah adat Minang Kabau
masbidin.net

Meskipun sebagai tempat tinggal bersama seperti halnya pada rumah umumnya, Rumah Gadang ini mempunyai peraturan tersendiri yang beda dengan yang lain. Peratura-peraturan tersebut ialah seperti jumlah pada kamar yang bergantung kepada jumlah perempuan yang menetap atau tinggal di rumah tersebut.

Lalu, setiap wanita yang sudah memilki suami didalam kaum tersebut akan mendapatkan sebuah kamar baru.
Namun perempuan-perempuan yang sudah memiliki umur atau bisa dibilang sudah tua dan anak-anak akan mendapatkan sebuah kamar yang letaknya yang berdekatan dengan dapur.

Sementara bagi wanita yang masih gadis atau perawan akan mendapatkan atau diberi kamar yang letaknya di ujung sendiri.

Semua bagian-bagian dari Rumah Gadang ini merupakan ruangan yang sangat lepas, terkecuali untuk kamar tidur tidak. Pada letak dalam Rumah Gadang ini terbagi menjadi 2 bagian, yakni ruangan yang ditandai dengan tiang dan lanjar.

Tiang2 tersebut berjajar dari belakang kedepang, dari depan ke belakang, dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri sebaliknya. Bagi tiang-tiang yang berjajaran dari depan ke belakang ialah menunjukkan lanjar, sementara untuk tiang dari kiri ke kanan itu menunjukkan ruang yang di tuju. Bagi jumlah lanjar ini tergantung dari besar ukurang rumah, bisa empat, tiga atau dua saja.

Bagi Ruangannya pun terdiri dari jumlah-jumlah yang ganjil, yakni antara tiga hingga sebelas ruangan. Umumnya Rumah Gadang ini dibentuk atau dibangun diatas tanah milik keluarga induk didalam kaum secara turun menurun dari leluhurnya dan hanya dimiliki dan diwarisi kepada perempuan-perempuan di suku itu.

Umumnya di depan Rumah Gadang ini terdapat sebuah halaman yang selalu ada dua bangunan yang dipakai untuk menyimpan padi hasil tani. Di lokasi ini bangunan sebelah kiri dan sebelah kanannya Rumah Gadang ternyata terdapat raung anjung yang mana ruang anjung tersebut dipakai untuk pengantin bersanding atau penobatan kepala adat di sana.

Sebab dari itu Rumah Gadang ini diberi nama atau julukan sebagai Rumah Bannjuang.
Anjung yang berada di kelarasan Koto Piliang ini memakai tongkat penahan, sementara di kelarasan Bodi Chaniago tidak memakai tongkat penahan sama sekali di bagian bawahnya tersebut.

Hal ini sama dengan teori atau filosofi yang memang dipercaya oleh masing-masing kelompok di sana.
Di kalangan pertama mempercayai sebuah prinsip dari pemerintahan hirarki bahwa memakai anjung yang memakai tongkat penahan, sementara dengan kalangan yang kedua anjuang tersebut seakan-akan melayang-layang di udara.

Inilah Fungsi, Desain, Ukiran, Filosofi, Sejarah, Proses,

Desain Rumah Gadang Minang Kabau

Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau / kalimantanpers.co.id

Rumah Gadang atau di sebut rumah adat Minang Kabau ini memiliki keunikan-keunikan tersendiri, yakni keunikan tersebtu terletak di bentuk motif rumahnya. Pola atau wujud puncak dari atapnya yang begitu runcing, menyerupai seperti wujud atau bentuk tanduk kerbau.

Di saat zaman dahulu kala atap runcing ini dibikin dari bahan-bahan utama ijuk yang bisa berkukuh sampai puluhan tahun masanya. Akan tetapi, belakangan-belakangan ini atap dari Rumah adat Minang Kabau atau Rumah Gadang banyak sekali perubahan-perubahan.

Modifikasi yang terjadi ialah bisa dilihat dari cara pembuatan atap runcingnya, yang mana pada zaman dulu atap runcing tersebut dibuat dari bahan-bahan ijuk, namun pada era sekarang ini atap runcing tersebut kebanyakan dibuat dari bahan-bahan seng pada umumnya dg yang lain.

Rumah Gadang atau di sebut juga Rumah Adat Minang Kabau ini dibangun dalam bentuk empat persegi panjang dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan pada bagian belakan. Di titik depan Rumah Gadang ini biasanya dipenuhi dengan hiasan-hiasan yang berbau bunga.

Sementara itu pada bagian belakang Rumah Gadang atau bagian luarnya dilapisi oleh belahan bambu-bambu.
Ada Minang Kabau ini dibentuk dari tiang-tiang yang panjang, bangunan rumah yang dibentuk naik ke atas, akan tetapi tidak mudah roboh apabila terkena goncangan-goncangan seperti gempa bumi dan bencana lain nya.

Buka cuma itu, di setiap komponen dari Rumah Gadang ini mempunyai arti tersendiri yang dibelakangin dengan yang ada di kehidupan penduduk Minang Kabau tersebut.

Pada umumnya Rumah Adat Minang Kabau atau Rumah Gadang ini mempunyai sebuah tangga yang letaknya di posisi depan rumah. Sedangkan tempat dapur itu dibangun dengan terpisah di bagian belakang rumah yang dihempit oleh dinding rumah.

Kenapa rumah adat minangkabu ini dibangun dengan desain seperti itu? Karena Rumah Gadang ini letaknya berada di daerah pegunungan dan bukit-bukit, yang mana dari dulu daerah pegunungan dan bukit itu termasuk salah satu lokasi yang terkena rawan gempa.

Sebab dari itu arsitektur Rumah Gadang ini memperhitungkan terlebih dahulu untuk desain-desain yang kuat dan tahan dari goncangan bencana alam gempa.

Ukiran Rumah Gadang

Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau / arsitag.com

Di posisi dinding-dinding Rumah Gadang ini terbentuk dari bahan utama papan, sementara di bagian belakang Rumah Gadang ini terbentuk dari bahan-bahan bambu yang terdapat di sana.

Dan Papan dinding ini dipasang secara vertikal, dan seluruh papan yang menjadi dinding atau bingkai maka akan diberikan sebuah ukiran, sehingga semua dinding-dinding yang terbuat dari papan akan terlihat bagus karena terdapat ukiran di bagian papannya.

Untuk mengalokasikan corak atau ornamen sesuai dengan susunan-susunan dan letaknya papan di dinding Rumah Gadang yang satu ini. Pada intinya, ukiran-ukiran yang ada di dalam Rumah Gadang ini merupakan jenis hiasan yang mengisi penuh dinding tersebut dalam bentuk garis persegi bias juga garis melingkar.

Biasanya model-model yang sering dipakai ialah model tumbuh-tumbuhan merambat, berbunga dan berbuah, dan akar yang berdaun. Umunya bentuk pola akar ini berbentuk akar berjajaran, berbentuk lingkaran, berhimpitan, berjalinan dan yang terakhir ialah sambung menyambung antar yang satu.

Tidak Cuma itu dari itu, ada juga ranting-ranting akar yang menongol ke luar, ke atas, ke dalam, ke bawah, ke samping. Selain dari corak bentuk akar, corak-corak lainnya bisa dijumpai yakni corak geometri bersegi tiga, empat, dan jajar genjang. Corak-corak daun atau buah-buahan juga dapat diukir sendiri meskipun berjajaran satu sama lain.

Rumah Adat Minangkabau

Leave a Comment

%d bloggers like this: