Sistem Ekonomi Islam: Tujuan, Prinsip dan Menurut Para Ahli UPDATE 2019

Sistem Ekonomi Islam – Sebelum diuraikan lebih jauh sampai pada pemahaman berkenaan prinsip ekonomi islam, terlebih dulu kita butuh memahami arti kata tersebut mulai dari sistem. Mempersoalkan sistem sesungguhnya tidak membahas hal yang baru.

Memang di dunia ini tidak terdapat yang sama sekali baru. apabila terdapat yang baru, sesungguhnya sesuatu itu sudah berlama-lama ada. Dinilai baru, karena modern ditemukan, modern diungkapkan, modern diketahui oleh orang banyak.

Pengertian, Tujuan, dan Prinsip Ekonomi Islam berdasarkan Para Ahli

sistem ekonomi islam

sistem ekonomi islam

Untuk sampai pada kesepakatan di celah orang-orang terhadap sesuatu yang tampaknya modern itu, terlebih dulu terjadi pertentangan pendapat yang berlanjut pada perdebatan.

Perdebatan ini menimbulkan suatu keputusan yang seolah-olah baru, pada hakekatnya bukanlah hal yang modern (Onong Uchjana Effendy, Sistem Informasi pada Manajemen, Bandung: Penerbit Alumni, 1981, halaman 42).

Sistem merupakan sesuatu yang mempunyai bagian-bagian yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu menggunakan tiga tahapan, yaitu Input, proses dan output. pada arti leluasa ungkapan “sistem” telah disamakan maknanya dengan ungkapan “cara”.

Pada dasarnya sesuatu bisa dikatakan sistem jikalau memenuhi 2 syarat. awal merupakan mempunyai bagian-bagian yang saling berinteraksi dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu. Syarat yang kedua merupakan bahwa suatu sistem harus mempunyai tiga unsur, yaitu input, proses dan output (Nugroho Widjajanto, Sistem Informasi Akuntansi, Jakarta: Erlangga, 2001, hlm. 2)

Kata ekonomi diambil dari bahasa Yunani antik (greek), yang berarti “mengatur urusan rumah tangga”, dimana anak buah keluarga yang mampu, ikut terlibat pada menimbulkan barang-barang berharga dan menopang menghadiahkan jasa (Taqyuddin An-Nabhani, Membangun Sistem Ekonomi Alternatif;Perspektif Islam, Surabaya: Risalah Gusti, 1996, hlm. 47).

Meskipun ilmu ekonomi dan sistem ekonomi sama-sama membahas ekonomi, kedua hal ini paling berbeda. Ilmu ekonomi pembahasannya meliputi kegiatan yang mengerjakan untuk memperbanyak kekayaan. Sedangkan, sistem ekonomi tidak dibedakan berlandaskan banyak sedikitnya kekayaan, lebih-lebih sama sekali tidak terpengaruh oleh kekayaan.

Sistem ekonomi masing masing memiliki hal corak, bentuk dan tujuannya yang berbeda-beda. Sistem ekonomi sendiri terbagi sebagai tiga yaitu sistem kapitalis, sosialis dan Islam.

Ekonomi Islam ialah kumpulan dari dasar-dasar umum ekonomi yang diambil dari Al-Qur‟an dan sunnah Rasulullah serta dari tatanan ekonomi yang dibangun di atas dasar-dasar tersebut.

Dari kedua dasar tersebut secara konsep dan prinsip merupakan tetap, tetapi pada praktiknya untuk hal-hal dan situasi serta kondisi tertentu bisa saja berlaku luwes terdapat pula yang bisa mengalami perubahan (Ahmad Izzan, Syahril Tanjung, keterangan Ekonomi Syariah Ayat-ayat Al-Qur’an yang Berdimensi Ekonomi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset, 2006, hlm. 32).

Yang dimaksud sistem ekonomi Islam merupakan ilmu ekonomi yang dilaksanakan pada praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-hari pada rangka mengorganisasi sebab produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang dan jasa yang dihasilkan tunduk pada peraturan perundang-undangan Islam.

Sahabat, Sistem ekonomi Islam ini selalu berlandaskan pada Al-Qur‟an dan As sunnah pada semua uraiannya yang selalu memandang manusia secara utuh, sehingga Al-Qur‟an pada memaparkan ajarannya dengan memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat.

Individu dilihatnya secara utuh, fisik, akal, dan kalbu, dan masyarakatdihadapinya dengan menekankan adanya kelompok lemah dan kuat, tetapi tidak menyebabkan mereka pada kelas-kelas yang saling bertentangan sebagaimana halnya komunis.

Akan tetapi mendorong mereka semua untuk bekerja sama guna meraih kemaslahatan individu tanpa mengkorbankan masyarakat ataupun sebaliknya (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 194).

Sistem ekonomi Islam lahir sebagai sistem yang mampu menghadiahkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat. Karena Islam memandang masalah ekonomi tidak dari sudut pandang kapitalis yang menghadiahkan kebebasan serta hak pemilikan kepada individu dan menggalakkan usaha secara perorangan.

Tidak pula dari sudut pandangsosialis yang hendak menghapuskan semua hak individu dan menyebabkan mereka seperti budak ekonomi yang dikendalikan oleh negara. Islam telah membenarkan sikap/ perilaku yang saling mengambil kepentingan diri sendiri tanpa membiarkannya merusak masyarakat.

Keberhasilan sistem ekonomi Islam terletak pada sejauh mana keselarasan ataupun keseimbangan bisa diusahakan diantara kebutuhan dan kebutuhan etika manusia. Sistem ekonomi berfungsi ataupun bekerja untuk mencapai tujuan ataupun hasil tertentu yang mempunyai nilai.

Sistem ekonomi harus tersusun dari seperangkat nilai-nilai yang bisa membangun kerangka organisasi kegiatan organisasi kegiatan ekonomi berdasarkan kerangka keterangan tertentu.

Sehingga bisa diungkapkan tiga komponen penting yang menyusun eksistensinya suatu ekonomi yaitu filsafat sistem, nilai-nilai dasar sistem dan nilai fragmental sistem (Ahmad M. Saefuddin, Studi Nilai-nilai Sistem Ekonomi Islam, Cet. 1, Jakarta: Media Dakwah, 1984, h. 15).

Filasafat sistem ekonomi yang Islami ialah pilihan jalur muncul bagi pakar pikir yang mempunyai sikap blak-blakan pada mencari kebenaran. Filsafat dari ilmu ekonomi yang paradigmanya relevan dengan nilai-nilai logik, etik dan estetik sehingga bisa difungsionalkan pada perilaku laku ekonomi manusia.

Tujuan Sistem Ekonomi Islam

sistem ekonomi islam

sistem ekonomi islam

Menurut As-Shatibi tujuan utama syariat Islam merupakan mencapai kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan terhadap lima kemashlahah-an, yaitu keimanan (ad-dien), ilmu (al-‘ilm), kehidupan (an-nafs), harta (al-maal), dan kelangsungan keturunan (an-nasl). (Saefuddin, Studi Nilai-Nilai Sistem Ekonomi Islam, h.79-104).

Mashlahah dicapai cuma apabila kehidupan manusia hidup pada keseimbangan, diantaranya mencakup keseimbangan celah moral dan spiritual sehingga terciptanya kesejahteraan yang hakiki.

Tujuan ekonomi Islam lainnya menggunakan pendekatan celah beda :

  1. Asupan manusia sangat dibatasi sampai dengan tingkat yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di bumi ini.
  2. Pada pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus diterapkan.
  3. Pemerataan pendapatan diusahakan dengan mengingat sumber kekayaan seseorang yang diperoleh dari usaha halal, maka zakat sebagai sarana distribusi pendapatan ialah sarana yang manjur (Halide, Majalah, Mimbar Ummi, 1982, hlm. 15).

Secara umum tujuan ekonomi pada Islam merupakan untuk menciptakan al-falah ataupun kemenangan, keselamatan dan kebahagian dunia dan akhirat.

Untuk mencapai hal begitu maka manusia harus bekerja keras mencari rezeki pada rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya baik yang bersifat materi ataupun non material (rohaniah).

Serta beruntuk baik dengan harta yang dimilikinya dengan memperhatikan nilai-nilai dan norma-norma petuah Islam, berupa pelaksanaan perintahnya dan menjauhkan larangannya supaya tercipta kemashlahatan yang sesungguhnya baik untuk dirinya sendiri dan orang banyak.

Prinsip-prinsip Sistem Ekonomi Islam

sistem ekonomi islam

sistem ekonomi islam

Salah satu bukti ketidakmampuan manusia membagi rezeki duniawi merupakan keinginan semua manusia untuk meraih sebanyak mungkin untuk diri dan keluargnya.

Tetapi ternyata, banyak yang tidak memperoleh dambaannya, lebih-lebih manusia durhaka tidak pernah merasa puas dengan perolehanya. Karena itu Allah yang membaginya dengan trik dan ukuran yang bisa mengantar terjalinnya hubungan timbal balik celah anak buah masyarakat.

Pada umumnya nilai-nilai Islam termasuk pada bidang ekonomi terangkum pada empat prinsip, yaitu tauhid, keseimbangan, kehendak bebas, dan tanggung jawab.

a. Tauhid

Prinsip awal pada sistem ekonomi Islam merupakan tauhid. Dari sinilah lahir prinsip-prinsip yang tidak saja pada bidang ekonomi, tetapi pun menyangkut segala segi kehidupan dunia dan alam baka (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 198).

Tauhid bisa diibaratkan sebagai matahari sebagai sumber kehidupan di bumi dan planet sekelilingnya. Tauhid mengantarkan manusia mengakui bahwa keesaan Allah memuat konsekuensi keyakinan bahwa segala sesuatu bersumber serta kesudahannya berakhir pada Allah Swt. (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 402).

b. Keadilan dan Keseimbangan

Prinsip ekonomi islam yang kedua ini dimaksudkan bahwa seluruh kebijakan dan kegiatan ekonomi harus dilandasi paham keadilan, yakni mengakibatkan akibat positif bagi pertumbuhan dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Mengenai yang dimaksud dengan keseimbangan merupakan suatu keadaan yang mencerminkan kesetaraan celah pendapatan dan pengeluaran, pertumbuhan dan pendistribusian dan celah pendapatan kumpulan yang mampu kurang mampu.

c. Kehendak bebas

Kehendak bebas merupakan prinsip yang mengantar seorang Muslim menyakini bahwa Allah Swt. mempunyai kebebasan mutlak, akan tetapi manusia pun mendapatkan rahmat kebebasan untuk menunjuk jalan yang terhampar dihadapannya baik dan buruk.

Manusia yang baik di sisi-Nya merupakan manusia yang mampu menggunakan kebebasan itu pada rangka penerapan tauhid dan keseimbangan. (M. Quraish Shihab, Menabur Pesan Illahi Al-Qur’an dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera Hati, 2006, h. 403).

Setiap orang bisa menikmati kebebasan sepenuhnya untuk beruntuk sesuatu ataupun mengambil pekerjaan apapun ataupun memanfaatkan kekayaan dengan trik yang ia sukai. (Afzalur Rahman, Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. H. M. Arifin, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000, h. 194).

d. Tanggung Jawab

Menurut Islam, bahwa sungguh manusia diberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidup dan menunjuk bidang usaha ekonomi yang tentu dilakukan, akan tetapi kebebasannya ini harus bertanggungjawab.

Konsepsi tanggung jawab pada Islam secara komprehensif ditentukan. terdapat 2 segi dari konsep ini yang harus dicatat sejak awal.

Tanggung jawab status kekhalifahan manusia keberadaannya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Kedua, konsep tanggung jawab pada Islam pada dasarnyabersifat sukarela dan tidak harus dicampuradukkan dengan ‘pemaksaan’ yang ditolak sepenuhnya oleh Islam.

Demikian secara ringkas perincian berkaitan dengan sistem ekonomi islam, tujuan ekonomi islam serta sejumlah Prinsip Ekonomi Islam yang bisa kami share menggunakan blog ini. Semoga bisa member manfaat bagi para pembaca.

Sistem Ekonomi Islam